Kondisi Terkini Banjir Tanjungsari: Aktivitas Lumpuh, Posko Darurat Didirikan

KABUPATEN BEKASI – Banjir kembali merendam Desa Tanjungsari, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Hingga Minggu (18/1) siang, genangan air masih menguasai sejumlah permukiman warga dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Ratusan kepala keluarga terdampak dan sebagian terpaksa mengungsi ke posko darurat yang dibangun secara swadaya.

Wilayah terparah berada di Kampung Kaliulu dan Kampung Poncol. Di Kampung Kaliulu RT 03 RW 02, banjir merendam rumah 110 kepala keluarga dengan ketinggian air sekitar 20-50 sentimeter.

Kondisi lebih parah terjadi di Kaliulu RT 04 RW 02, di mana 130 kepala keluarga terendam banjir setinggi 1 hingga 2 meter. Sementara di Kaliulu RT 05 RW 03, sebanyak 20 kepala keluarga terdampak genangan setinggi 20-50 sentimeter.

Di Kampung Poncol RT 07 RW 04, banjir merendam permukiman 150 kepala keluarga dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter hingga sekitar 1,4 meter. Akibat banjir tersebut, aktivitas warga lumpuh dan sejumlah perabot rumah tangga mengalami kerusakan.

Penjabat (Pj) Kepala Desa Tanjungsari, Aulia Juliyan Nur, mengatakan banjir kali ini dirasakan warga lebih parah dibanding kejadian sebelumnya dan mengingatkan pada banjir besar yang pernah terjadi pada 2014.

“Banjir kali ini cukup tinggi, terutama di Kaliulu RT 03, RT 04, dan Kampung Poncol. Banyak warga menilai kondisinya mirip dengan banjir besar tahun 2014,” kata Juliyan kepada Cikarang Ekspres.

Ia menyebutkan, total warga terdampak mencapai ratusan kepala keluarga. Di wilayah Kaliulu saja jumlahnya lebih dari 260 kepala keluarga, ditambah sekitar 150 kepala keluarga di Kampung Poncol.

“Rata-rata ketinggian air antara 20 sentimeter sampai lebih dari satu meter. Di beberapa titik air masuk ke dalam rumah dan warga sudah tidak bisa beraktivitas normal,” ujarnya.

Sebagian warga memilih mengungsi ke posko darurat yang diinisiasi masyarakat setempat. Posko tersebut juga direncanakan menjadi dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak. Namun, sebagian warga lainnya masih bertahan di rumah karena khawatir meninggalkan harta benda.

Seiring meningkatnya dampak banjir, Desa Tangguh Bencana (Destana) Desa Tanjungsari juga telah bergerak melakukan penanganan darurat. Sejak pagi, relawan Destana turun langsung ke sejumlah titik banjir untuk menyalurkan bantuan sembako kepada warga terdampak.

Bantuan tersebut disalurkan ke beberapa wilayah terdampak di Kampung Kaliulu dan Kampung Poncol, dengan prioritas warga lanjut usia, anak-anak, dan keluarga yang rumahnya terendam cukup dalam. Selain pendistribusian sembako, relawan Destana juga melakukan pendataan warga terdampak serta membantu evakuasi warga yang membutuhkan.

“Destana sudah bergerak sejak awal banjir. Bantuan sembako kami salurkan ke beberapa titik agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi,” kata Juliyan.

Selain dari Destana, bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan. Sedikitnya 42 kendaraan telah menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji dan beras ke posko-posko banjir untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat terdampak.

Kendati demikian, Juliyan menegaskan, banjir di wilayah Kaliulu dan sekitarnya merupakan persoalan lama yang kerap berulang setiap tahun. Menurutnya, limpasan air dari wilayah kawasan industri Jababeka yang mengalir ke Kaliulu, ditambah tingginya intensitas hujan, menjadi faktor utama penyebab banjir.

“Ini sudah menjadi langganan. Harapannya ke depan ada penanganan yang lebih serius dan menyeluruh agar banjir tidak terus berulang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup