Dukun Bakar Kemenyan di Depan Kejari Bekasi, Massa Desak Usut Dugaan Korupsi Rp4,7 Miliar

Bekasi, 25 September 2025 — Aksi unjuk rasa yang tidak biasa terjadi di depan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Bekasi, Kamis (25/9). Seorang dukun melakukan ritual membakar kemenyan dan menabur bunga tujuh rupa, sementara puluhan warga berpakaian serba hitam menggelar aksi damai sambil membawa payung hitam sebagai simbol perlawanan terhadap korupsi.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Miskin Kota mendesak Kejari Bekasi untuk serius menangani sejumlah kasus dugaan korupsi, terutama yang melibatkan pejabat eksekutif dan legislatif di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi.

Koordinator aksi, Abel Sakti, menyampaikan kekecewaannya terhadap lambannya penanganan kasus dugaan korupsi pengadaan alat olahraga di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) tahun anggaran 2023.

“Sudah delapan bulan sejak penetapan tiga tersangka, tapi belum ada perkembangan berarti. Kami menduga ada aktor intelektual di balik kasus ini, termasuk dari kalangan pejabat tinggi, bahkan Wali Kota dan istrinya,” ujar Abel, yang juga menjabat Ketua BEM STIE Mulya Pratama.

Dalam orasinya, Abel menyebut adanya aliran dana sebesar Rp4,7 miliar yang harusnya diselidiki lebih lanjut. Ia juga menyinggung kedekatan antara Wali Kota dengan pihak swasta, yang menurutnya terungkap dari pertemuan-pertemuan pribadi seperti “pesta kepiting”.

Ritual bakar kemenyan dan kembang tujuh rupa bukan tanpa alasan. Menurut Abel, itu merupakan simbol agar jaksa tidak mudah “disantet” oleh kekuatan uang suap dan lobi proyek bawah meja (under table).

“Kami bawa dukun agar para jaksa tidak mempan disantet oleh koruptor-koruptor Bekasi,” katanya.

Dalam selebaran yang dibagikan ke publik, massa menuntut Kejari Bekasi untuk segera mengusut tuntas dugaan praktik KKN di empat titik penting:

  1. Dugaan korupsi pengadaan alat olahraga Dispora TA 2023
  2. Dugaan penyimpangan dalam sewa dan pemeliharaan rumah dinas Wali Kota
  3. Dugaan nepotisme dalam mutasi jabatan adik kandung dan ipar Wali Kota
  4. Dana hibah KONI dan KORMI di mana istri Wali Kota menjabat sebagai ketua (merangkap peran sebagai regulator dan operator)

Ketua GMKI Kota Bekasi, Aldo, turut menyuarakan desakan agar Kejari bersikap tegas.

“Kami mendesak Kejari tidak pandang bulu! Periksa Wali Kota dan istrinya atas dugaan penyalahgunaan wewenang. Kejari jangan banci!” serunya dalam orasi.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Kota Bekasi, Riyan Anugerah, yang menemui massa menyatakan pihaknya akan menampung seluruh aspirasi yang disampaikan.

“Kami menerima semua aspirasi secara terbuka,” ujarnya singkat.

Setelah berorasi, massa bergerak ke gerbang Tol Bekasi Barat. Di sana, mereka membentangkan spanduk hitam sepanjang 25 meter bertuliskan:
“Periksa dan Adili Wali Kota, Istri, dan Pejabat Korup!”

Beberapa peserta aksi juga terlihat membagikan selebaran kepada pengguna jalan, sebagai bentuk edukasi dan ajakan melawan korupsi di Kota Bekasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup