Warga Keluhkan Jalan Rusak, Hibah KONI Bekasi Justru Tembus Rp 93 Miliar

Ilustrasi Jalan Rusak

Ketimpangan alokasi anggaran kembali memantik sorotan. Di saat hibah KONI Kabupaten Bekasi 2026 menembus Rp93 miliar, anggaran untuk infrastruktur jalan yang langsung dirasakan masyarakat hanya berada di kisaran Rp230 miliar. 

Perbandingan ini memunculkan pertanyaan keras, apakah prioritas pembangunan sudah tepat sasaran?

Data anggaran menunjukkan kontras yang mencolok. Hibah untuk KONI Kabupaten Bekasi mencapai hampir setengah dari total anggaran pembangunan jalan kabupaten Bekasi. 

Padahal, sektor jalan menjadi kebutuhan dasar yang menyentuh langsung aktivitas ekonomi warga, dari distribusi barang hingga mobilitas harian.

Lebih jauh lagi, angka Rp230 miliar untuk jalan ternyata tidak sepenuhnya digunakan untuk pembangunan fisik. Setelah dipotong biaya perencanaan, pengawasan, dan operasional, belanja riil untuk perbaikan jalan diperkirakan tidak sampai Rp200 miliar.

Artinya, selisih antara hibah olahraga dan pembangunan fisik jalan menjadi semakin tipis. Dalam perspektif publik, kondisi ini memunculkan kesan bahwa anggaran prestasi hampir menyamai anggaran kebutuhan dasar.

“Kalau dilihat dari dampaknya, jalan rusak dirasakan setiap hari oleh masyarakat. Sementara hibah olahraga dampaknya terbatas dan tidak langsung,” ujar Salman Ketua Ikamasi (Ikatan Mahasiswa Bekasi) dari UIN Jogjakarta. Minggu (26/4/2026)

Salman juga menyatakan, kondisi fiskal Kabupaten Bekasi masih bergantung pada transfer pemerintah pusat seperti DAU dan DAK.

“Ketika terjadi penyesuaian atau pengetatan transfer, ruang fiskal otomatis jadi menyempit,”kata Salman.

Dalam situasi tersebut, kata dia, alokasi hibah besar dinilai berisiko menekan belanja prioritas lain.

Apalagi laporan di lapangan masih menunjukkan adanya jalan rusak di berbagai titik, yang belum tertangani optimal.

Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki argumen berbeda. Anggaran besar untuk KONI Kabupaten Bekasi dikaitkan dengan persiapan Porprov Jawa Barat 2026, yang diharapkan mampu mendongkrak prestasi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Namun bagi masyarakat, manfaat itu masih kalah nyata dibanding kondisi jalan yang setiap hari dilalui.

Perbandingan Rp93 miliar untuk hibah olahraga dan kurang dari Rp200 miliar untuk fisik jalan kini menjadi simbol perdebatan yang lebih besar antara ambisi prestasi dan kebutuhan dasar rakyat.

Dan di tengah tekanan anggaran akibat ketergantungan pada dana pusat, keputusan ini bisa menjadi ujian paling nyata, apakah APBD benar-benar berpihak pada publik, atau justru tersandera prioritas lain.

Sumber : Inijabar.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup