Pasar Kerja Lesu, Perbandingan Loker dan Pencaker di Bekasi Capai 1:10

Ilustrasi Pencari Kerja

Kesempatan kerja di Kabupaten Bekasi semakin terbatas. Hal ini terlihat dari antrean panjang puluhan ribu pencari kerja yang memperebutkan ribuan lowongan pekerjaan beberapa waktu lalu. Kondisi ini menjadi cerminan nyata bahwa lapangan kerja di wilayah tersebut semakin sulit didapatkan.

Kepala Bidang Informasi Pasar Kerja dan Peningkatan Produktivitas Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi, Muhammad Ali Amran, mengungkapkan bahwa pasar kerja saat ini sedang menghadapi tekanan berat. Penurunan produktivitas di banyak sektor industri akibat situasi ekonomi global menjadi salah satu penyebab utama.

“Perusahaan masih sangat sulit berkaitan dengan produktivitasnya, sehingga kebutuhan pegawai juga menurun. Turnover juga sekarang kecil,” ujar Amran belum lama ini.

Meski begitu, pemerintah daerah terus berupaya menyediakan peluang kerja bagi masyarakat melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah dengan mengintegrasikan aplikasi Siap Kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan RI dengan aplikasi SIP Kerja milik Pemerintah Kabupaten Bekasi. Langkah ini juga diperkuat melalui regulasi seperti Perpres Nomor 57 Tahun 2023 tentang wajib lapor lowongan pekerjaan dan Permenaker Nomor 18 Tahun 2024 tentang penempatan tenaga kerja dalam negeri.

“Kami berharap perusahaan di Kabupaten Bekasi taat pada regulasi dan melaporkan perekrutan serta penempatan tenaga kerja melalui KarirHub, sehingga pemerintah memiliki data pasar kerja yang akurat,” ungkapnya.

Saat ini, sambungnya, lebih dari 1.900 perusahaan di Kabupaten Bekasi telah bergabung dalam aplikasi Siap Kerja. Namun, tantangan besar masih ada. Dari data yang tercatat, terdapat lebih dari 60 ribu pencari kerja yang terdaftar, sementara lowongan pekerjaan yang tersedia hanya sekitar 5.600 posisi.

Melihat situasi ini, pihaknya mengimbau masyarakat untuk mulai melirik peluang di sektor informal. Amran mengajak para pencari kerja untuk tidak hanya bergantung pada pekerjaan di pabrik, tetapi juga membuka diri terhadap peluang di bidang kewirausahaan dan digitalisasi.

“Jangan berpikir kerja itu hanya di pabrik. Peluang usaha mandiri dan sektor digital juga harus dilihat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup