Hilang Palang, Hilang sinyal, Hilang nyawa.
Penulis: sahal miqdad, (Penggurus Ikamasi Yogyakarta.)
Kami turut berduka cita yang mendalam atas kecelakaan kereta yang mengenaskan di perlintasan kereta api Bekasi Timur. Semoga korban jiwa mendapat tempat terbaik di sisi-nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan. Untuk korban luka-luka, semoga mendapatkan perawatan terbaik dan lekas sembuh seperti sediakala.
16 korban jiwa dan puluhan korban luka-luka, sudah lebih dari cukup untuk menyebut ini sebagai tragedi yang mengenaskan.
Taksi listrik Green SM yang diduga menjadi awal dari tragedi ini perlu disorot tajam. Pasalnya, ini bukan kali pertama armada perusahaan taksi tersebut terlibat insiden di lintasan kereta api. Pada Oktober 2025 di pelintasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Desember 2025 di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ada insiden di pelintasan kereta api yang diakibatkan oleh salah satu armada taksi Green SM.
Masyarakat juga menyoroti sopir atau driver yang tertangkap dalam kondisi merokok santai seolah tak terjadi apa-apa. Pada kejadian di Rawa Buaya bahkan sopir diduga sedang sibuk dengan ponselnya meski sudah diperingatkan warga. Tentu hal ini menjadi penguat bahwa perlu adanya investigasi dan tindakan tegas terhadap perusahaan ini.
Di sisi lain, menurut keterangan asisten masinis KA Argo Bromo, ada gangguan sinyal sesaat sebelum kejadian. Ini menjadi salah satu penyebab mengapa insiden ini bisa terjadi. Ini harus menjadi bahan evaluasi PT KAI agar lebih baik dalam mengatur operasional kereta api agar dapat mencegah insiden serupa terulang kembali.
Namun ada kejanggalan juga pada lintasan kereta api tempat kejadian. Yaitu, tidak adanya palang pada pelintasan kereta api. Komisaris utama PT KAI, Said Aqil Siradj menegaskan bahwa pengadaan dan penjagaan palang pintu di pelintasan sebidang bukan tanggung jawab KAI, melainkan kewajiban dari pemerintah daerah setempat. Maka kesalahan fatal juga ada pada pemerintah daerah Kota Bekasi. Pasalnya di lokasi kejadian tidak ada palang resmi, hanya ada palang bambu seadanya itupun hanya ada di satu sisi.
Sementara yang kita dengar hanyalah pembahasan mengenai fly over yang sudah lama diajukan oleh pemerintah daerah. Hal ini seolah mengalihkan pandangan masyarakat kepada masalah besar yang melibatkan pemerintah provinsi bahkan pemerintah pusat. Padahal ada masalah kecil yang belum diselesaikan oleh pemerintah daerah sehingga berakibat fatal. Sampai saat ini, belum ada keterangan jelas mengenai tidak adanya palang di pelintasan kereta api tempat insiden terjadi. Namun ada asumsi bahwa hal ini berhubungan dengan organisasi masyarakat (Ormas).
Apresiasi kami kepada pihak-pihak yang membantu proses evakuasi serta respon cepat dan baik dari pemerintah juga PT KAI. Semoga insiden serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.













