Tanggul Jebol di Muaragembong, BBWS Citarum Lakukan Penanganan Darurat

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum melakukan penanganan darurat terhadap tanggul jebol di Kampung Bendungan RT 03 RW 05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Peristiwa jebolnya tanggul sepanjang 10 meter itu berdampak pada sekitar 200 kepala keluarga dan menghambat aktivitas warga.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Citarum, Jaya Sampurna, mengatakan pihaknya langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan dari pemerintah kecamatan. Berdasarkan hasil pemantauan, terdapat lima titik tanggul yang masuk kategori rawan dan harus segera ditangani.

“Kami ikut prihatin atas kondisi masyarakat di sekitar sini. Hari ini kami hadir karena ini kondisi darurat. Dari laporan kecamatan, ada lima titik yang harus segera ditangani, dan peralatan serta material saat ini sudah dalam perjalanan ke lokasi,” ujar Jaya Sampurna di lokasi tanggul jebol, Selasa (20/1/2026).

Menurutnya, penanganan awal dilakukan secara darurat dengan memasang geobag yang diperkuat dolken untuk menutup bagian tanggul yang bobol agar aliran air dapat dihentikan sementara. BBWS menargetkan satu titik utama dapat tertutup pada hari yang sama, sementara titik rawan lainnya akan ditangani dalam waktu satu hingga tiga hari ke depan.

Jaya menjelaskan, penyebab jebolnya tanggul tidak hanya dipengaruhi curah hujan tinggi, tetapi juga kondisi geografis wilayah Muaragembong yang kompleks. Selain menghadapi banjir rob dari laut, wilayah ini juga memiliki tanah aluvial yang berasal dari endapan, sehingga rentan longsor saat debit air meningkat.

“Debit kiriman air dari hulu relatif kecil, tetapi tercatat debit di Kedung Gede mencapai 730 meter kubik per detik. Ini sangat signifikan dan diduga akibat curah hujan tinggi di kawasan ini, ditambah banjir rob yang menahan laju air,” katanya.

Untuk penanganan darurat, BBWS Citarum menurunkan satu kontainer berisi sekitar seribu geobag, dengan kapasitas masing-masing sekitar setengah meter kubik. Sementara itu, penanganan permanen akan dilakukan setelah melalui perencanaan matang, termasuk simulasi pengaruh banjir rob terhadap aliran sungai.

Jaya juga mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar tanggul agar tetap waspada dan berkolaborasi dengan pemerintah, terutama dalam menyampaikan informasi kondisi tanggul di lapangan.

“Dengan personel yang terbatas, kami berharap masyarakat bisa berkolaborasi, saling mengawasi, dan segera melapor jika ada tanda-tanda kerawanan demi keselamatan bersama,” pungkasnya. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup