Warga Taman Aster Geruduk Kantor Marketing, Tolak Jalan Utama Dijadikan Jalur Proyek Perumahan Baru
Kabupaten Bekasi – Ketegangan memuncak di Perumahan Taman Aster. Puluhan warga—dari bapak-bapak hingga para ibu rumah tangga—turun ke jalan menggelar aksi protes di depan kantor marketing proyek perumahan baru di Telagaasih, Cikarang Barat, Rabu (3/12/2025). Mereka menolak keras penggunaan jalan utama Taman Aster sebagai jalur keluar-masuk kendaraan berat milik pengembang.
Sejak September 2025, truk-truk besar dan alat berat lalu-lalang melewati jalan utama yang selama ini menjadi akses vital warga: mulai dari berangkat kerja, antar-jemput anak sekolah, hingga aktivitas berdagang. Kondisi ini memicu keresahan karena jalan semakin rusak, rawan macet, dan membahayakan keselamatan warga.
Ketua Forum Warga Taman Aster, Imam Jauhari, menegaskan bahwa warga menolak jalan utama dijadikan jalur proyek.
“Poin pentingnya adalah kami menolak penggunaan akses jalan Taman Aster untuk mobilitas truk proyek. Selain merusak jalan, jam sibuk pasti macet total. Ini akses utama warga, bukan jalur proyek,” ujar Imam.
Menurutnya, kemacetan di kawasan tersebut sebenarnya sudah sering terjadi pada pagi hari. Jika kendaraan proyek terus melintas, kondisi diyakini akan semakin parah. Warga juga mengkhawatirkan dampak lingkungan, terutama risiko banjir yang mulai terjadi sejak adanya rekayasa irigasi dari area belakang perumahan.
“Efek negatifnya banyak: banjir, macet, keamanan. Sekarang saja salah satu blok sudah banjir saat hujan lebat,” tegas Imam.
Perwakilan pengembang, Triyoso, mengakui pihaknya kurang berkomunikasi dengan warga.
“Kami akui ini kekurangan kami. Ada miskomunikasi internal. Kami akan segera sosialisasi ulang dengan warga Aster dan mempresentasikan rencana proyek,” kata Triyoso.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan memperbaiki kerusakan jalan serta tidak lagi menggunakan jalan utama warga sebagai jalur kendaraan proyek.
Triyoso menjelaskan bahwa jalan utama Taman Aster merupakan fasos-fasum yang telah diserahkan ke Pemkab Bekasi. Namun ia mengakui jalan tersebut tidak layak digunakan kendaraan berat.
Sebagai solusi, ia menyebut pengembang menyiapkan jalur alternatif:
- Jalan sementara melalui Desa Bojongkoneng (ditargetkan berfungsi minggu depan).
- Koordinasi dengan Pemkab untuk jalur Pantura–PJT sebagai akses utama proyek.
“Tidak ada kendaraan proyek yang akan melewati Taman Aster lagi. Kami yakini warga bisa menerima setelah jalur baru dibuka,” ujarnya.
Triyoso juga memastikan tidak akan ada truk pembawa tanah yang berpotensi mencemari jalan, karena material pekerjaan tidak diambil dari luar.
Untuk mengatasi kekhawatiran banjir, pengembang berjanji membangun dua kolam besar penampung air (folder) sebagai pengendali limpasan hujan.
“Kami buat dua folder air sebagai penampung air limbah dan air bah, sehingga tidak akan meluap ke luar,” tutupnya.










