Figur Muda Karang Baru, Muhammad Alpian Jadi Harapan Baru Akses Pendidikan Gratis

Kabupaten Bekasi – Kepedulian terhadap masa depan pendidikan anak-anak di Desa Karang Baru menjadi fokus utama perhatian tokoh muda desa, Muhamad Alpian. Di tengah polemik sistem zonasi yang membuat banyak warga kehilangan akses pendidikan gratis, Alpian tampil mendorong solusi konkret agar hak pendidikan tetap dapat dirasakan oleh seluruh warga.

Selama ini, tidak adanya sekolah negeri di Desa Karang Baru membuat banyak anak harus menempuh pendidikan di sekolah swasta yang jaraknya cukup jauh. Akibat ketatnya aturan zonasi PPDB, warga pun kehilangan kesempatan untuk menikmati pendidikan gratis sebagaimana mestinya.

“Meskipun cita-cita kami adalah memiliki sekolah negeri sendiri, saat ini anak-anak kami sudah bersekolah. Solusi tercepat yang kami harapkan adalah adanya intervensi dana, baik dalam bentuk beasiswa desa atau subsidi biaya sekolah swasta, agar hak pendidikan gratis anak-anak kami tidak terenggut hanya karena persoalan zonasi dan jarak,” ujar Muhamad Alpian, yang juga menjabat sebagai Ketua Karang Taruna Desa Karang Baru.

Menurut Alpian, solusi cepat seperti beasiswa desa atau bantuan pendidikan langsung bisa menjadi langkah nyata sambil menunggu proses panjang pembangunan sekolah negeri. Ia menilai bahwa kepemimpinan di tingkat desa harus hadir bukan hanya sebagai administrasi, tetapi juga sebagai pelindung hak-hak dasar warga, termasuk pendidikan.

“Kalau nanti diberi amanah memimpin, saya ingin memastikan bahwa tidak ada lagi anak-anak di Karang Baru yang berhenti sekolah hanya karena biaya atau zonasi. Pendidikan adalah hak, bukan privilese,” tegasnya.

Dorongan tersebut disambut positif oleh banyak warga yang menilai sikap Alpian menunjukkan keberpihakan nyata pada rakyat kecil. Ia dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan pemuda, serta konsisten menyuarakan persoalan-persoalan krusial di tingkat desa.

Warga berharap, suara seperti yang disampaikan Alpian dapat menjadi representasi pemimpin desa yang memahami persoalan dari bawah — bukan sekadar menjanjikan, tetapi hadir dengan gagasan dan aksi nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup